Kerajaan Arab Saudi adalah salah satu negara yang memiliki pengaruh besar di dunia Islam dan geopolitik global. Berdirinya negara ini merupakan hasil dari perjalanan sejarah yang panjang, melibatkan perjuangan politik, agama, dan militer yang dipimpin oleh Dinasti Al-Saud. Artikel ini akan membahas secara rinci asal mula berdirinya Kerajaan Arab Saudi.
1. Kondisi Jazirah Arab Sebelum Arab Saudi
Sebelum Arab Saudi terbentuk, Jazirah Arab merupakan wilayah yang terdiri dari suku-suku yang saling bersaing. Wilayah ini tidak memiliki pemerintahan yang terpusat. Sebagian besar wilayahnya berupa gurun dengan sedikit kota yang menjadi pusat perdagangan, seperti Mekah dan Madinah. Penduduknya mayoritas menganut Islam, tetapi wilayah ini terpecah-pecah akibat persaingan antar suku dan pengaruh kolonial Eropa yang mulai masuk pada abad ke-18.
2. Munculnya Gerakan Wahhabisme
Pada abad ke-18, seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792) muncul sebagai tokoh penting di Jazirah Arab. Ia mendirikan gerakan pembaharuan Islam yang dikenal sebagai Wahhabisme. Gerakan ini berupaya mengembalikan praktik Islam sesuai ajaran murni dari Al-Qur'an dan Hadis.
Pada tahun 1744, Muhammad bin Abdul Wahhab bersekutu dengan Muhammad bin Saud, pemimpin lokal di wilayah Diriyah (dekat Riyadh). Persekutuan ini menjadi landasan bagi terbentuknya negara yang kelak menjadi Arab Saudi. Dalam perjanjian ini, Muhammad bin Saud bertanggung jawab atas urusan politik dan militer, sedangkan Muhammad bin Abdul Wahhab menangani urusan keagamaan.
3. Dinasti Al-Saud dan Pembentukan Arab Saudi Pertama
-
Negara Saudi Pertama (1744–1818):
Kerajaan pertama didirikan oleh Muhammad bin Saud di Diriyah. Namun, kerajaan ini runtuh setelah serangan dari Kekaisaran Ottoman melalui pasukan Mesir yang dipimpin oleh Muhammad Ali Pasha pada tahun 1818. -
Negara Saudi Kedua (1824–1891):
Dinasti Al-Saud kembali bangkit di bawah kepemimpinan Turki bin Abdullah. Ia mendirikan ibu kota di Riyadh. Namun, negara ini kembali runtuh akibat konflik internal dalam dinasti dan serangan dari suku-suku lain, seperti Al-Rashid dari Hail.
4. Kebangkitan Kerajaan Arab Saudi Modern
Kebangkitan Kerajaan Arab Saudi modern dimulai pada tahun 1902, ketika Abdulaziz bin Abdul Rahman Al-Saud (juga dikenal sebagai Ibn Saud) merebut kembali kota Riyadh. Ia berhasil mengalahkan Al-Rashid dan memperluas wilayah kekuasaannya dengan dukungan suku-suku di Jazirah Arab.
Ibn Saud menggunakan strategi diplomasi dan kekuatan militer untuk menyatukan berbagai wilayah di Jazirah Arab, termasuk Hijaz, yang mencakup dua kota suci Islam, Mekah dan Madinah. Hijaz berhasil direbut pada tahun 1925 setelah mengalahkan Syarif Hussein, penguasa Hijaz saat itu.
5. Proklamasi Kerajaan Arab Saudi
Pada 23 September 1932, Abdulaziz bin Abdul Rahman Al-Saud memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Tanggal ini kemudian dijadikan hari nasional Arab Saudi. Negara ini dinamai sesuai dengan nama keluarga Al-Saud, sebagai pengakuan atas peran mereka dalam pembentukan negara.
6. Penemuan Minyak dan Perkembangan Modern
Pada tahun 1938, cadangan minyak ditemukan di Dammam, yang mengubah Arab Saudi menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Penemuan ini membawa transformasi besar dalam ekonomi, politik, dan posisi Arab Saudi di kancah internasional. Sebagai pemimpin OPEC dan penjaga dua kota suci, Arab Saudi memainkan peran penting dalam politik energi global dan dunia Islam.
Pendirian Kerajaan Arab Saudi pada awal abad ke-20 melibatkan elemen dukungan ideologis dari Wahabisme dan dukungan strategis dari Inggris dalam konteks pergolakan politik di wilayah Hijaz dan Najd. Berikut adalah penjelasan mendetail:
Peran Wahabisme
Wahabisme, sebuah gerakan reformasi Islam yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke-18, menjadi landasan ideologis utama bagi keluarga Al Saud. Kerja sama antara Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud (pendiri dinasti Al Saud) menciptakan aliansi yang kuat antara visi agama dan ambisi politik. Al Saud menggunakan ajaran Wahabi untuk memperkuat legitimasi mereka, memperluas kekuasaan mereka di wilayah Najd, dan akhirnya menyatukan wilayah-wilayah Arab di bawah satu kerajaan.
Dukungan Inggris
Selama Perang Dunia I, Inggris berusaha menggoyahkan Kekhalifahan Utsmaniyah, yang berkuasa atas wilayah Hijaz. Mereka menawarkan dukungan kepada berbagai pemimpin Arab yang berpotensi menantang kekuasaan Utsmaniyah, termasuk Sharif Hussein bin Ali di Hijaz dan Abdulaziz bin Saud (pendiri Kerajaan Arab Saudi modern) di Najd.
-
Kerjasama Strategis: Inggris memberikan bantuan finansial dan persenjataan kepada Abdulaziz bin Saud untuk memperkuat posisinya melawan rival lokalnya, termasuk Sharif Hussein. Abdulaziz menggunakan dukungan ini untuk memperluas wilayahnya dan akhirnya merebut Hijaz pada tahun 1924-1925.
-
Motivasi Inggris: Dukungan kepada Abdulaziz sebagian besar didorong oleh kepentingan geopolitik Inggris untuk memastikan stabilitas kawasan yang penting bagi jalur komunikasi dan penguasaan mereka di Timur Tengah.
Keberhasilan Abdulaziz
Dengan kombinasi doktrin Wahabi yang menggerakkan pasukan suku lokal seperti Ikhwan (milisi Wahabi) dan dukungan material dari Inggris, Abdulaziz berhasil mengalahkan Sharif Hussein dan merebut Hijaz, termasuk kota suci Makkah dan Madinah. Pada tahun 1932, Kerajaan Arab Saudi secara resmi didirikan dengan Abdulaziz sebagai rajanya.
Kontroversi
Dukungan Inggris dan penggunaan Wahabisme sebagai alat politik sering menjadi bahan perdebatan. Beberapa sejarawan melihatnya sebagai aliansi pragmatis yang membentuk wilayah tersebut, sementara yang lain mengkritiknya sebagai taktik yang merugikan pluralitas budaya dan agama di Arab.
Dengan demikian, berdirinya Kerajaan Arab Saudi memang tidak lepas dari peran Wahabisme dan dukungan Inggris, yang memberikan Abdulaziz alat untuk mengonsolidasikan kekuasaan di semenanjung Arab.
Wallahu a'lam Bishawab...