Arwā binti Abdul Muthalib adalah salah satu tokoh wanita penting dari keluarga Nabi Muhammad SAW, meskipun sering kali kurang dikenal dibandingkan anggota keluarga lainnya. Ia adalah bibi dari Nabi Muhammad SAW, anak perempuan Abdul Muthalib, dan saudari dari Abdullah, ayah Nabi SAW. Kisah hidupnya penuh keteguhan iman dan keberanian yang memberi teladan bagi umat Muslim.
Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Awal
Arwā lahir di lingkungan keluarga Bani Hasyim di Mekkah, sebuah klan terhormat yang memiliki posisi penting di kalangan Quraisy. Ayahnya, Abdul Muthalib, adalah pemimpin Quraisy yang terkenal akan kebijaksanaan dan kemuliaannya, sementara ibunya adalah Fatimah binti Amr dari suku Makhzum. Arwā tumbuh di keluarga yang berpengaruh dan terhormat. Di antara saudara kandungnya adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, yang kelak dikenal sebagai salah satu pahlawan Islam, serta Abbas bin Abdul Muthalib, yang nantinya menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi.
Arwā menikah dengan Umair bin Wahb dari klan Quraisy, dan dari pernikahan ini ia memiliki beberapa anak, di antaranya adalah Thulaib bin Umair yang kelak masuk Islam pada masa awal kenabian Muhammad SAW. Dalam kehidupannya, Arwā dikenal sebagai wanita cerdas, berani, dan memiliki pendirian yang kuat.
Dukungan pada Rasulullah SAW
Ketika Nabi Muhammad SAW mulai menyebarkan risalah Islam, Arwā adalah salah satu anggota keluarga yang memberikan dukungan moral. Meskipun pada masa awal ia belum secara terbuka menyatakan keimanannya, Arwā mendukung anaknya, Thulaib bin Umair, yang memeluk Islam pada periode awal kenabian. Arwā juga menghadapi tekanan dari kaum Quraisy yang menentang Islam, tetapi ia tetap memberikan perlindungan dan dukungan kepada Nabi SAW.
Dikisahkan bahwa ketika putranya, Thulaib, masuk Islam dan ikut membela Nabi SAW, Arwā merasa bangga meskipun menyadari tantangan yang akan mereka hadapi dari kaum Quraisy. Ia bahkan menyemangati anaknya untuk terus mendukung dakwah Nabi SAW dan tidak takut pada ancaman atau ejekan orang-orang yang menentang Islam. Ketika Thulaib meminta izin untuk bergabung secara langsung dengan Nabi SAW, Arwā berkata, “Pergilah, wahai anakku, dan ikuti sepupumu itu, bela dia dengan segala yang kau miliki.”
Peran Arwā dalam Mendukung Islam
Arwā menjadi sosok penting dalam menjaga moral keluarga Bani Hasyim agar tetap mendukung Nabi. Dalam situasi di mana kaum Quraisy sering kali melakukan tekanan sosial dan ekonomi terhadap Muslim awal, dukungan Arwā sangat berpengaruh. Ia juga dikenal karena keberaniannya dalam menghadapi Abu Lahab, salah satu pamannya sendiri yang sangat menentang Nabi SAW dan melakukan berbagai cara untuk menghalangi penyebaran Islam.
Dikisahkan bahwa Arwā pernah menegur Abu Lahab yang terus menerus menghina Nabi. Ia dengan berani berkata kepada Abu Lahab, “Mengapa kau terus memusuhi Muhammad, padahal ia adalah keponakanmu sendiri dan orang yang jujur? Apa yang membuatmu begitu membencinya?” Teguran ini menunjukkan bahwa Arwā tidak takut menentang keluarganya sendiri demi mendukung kebenaran. Meskipun tidak selalu terlibat langsung dalam kegiatan dakwah, perannya dalam mempertahankan kehormatan keluarga dan memberikan dukungan moral bagi Nabi dan keluarganya sangatlah besar.
Akhir Kehidupan Arwā
Tidak banyak yang diketahui secara rinci tentang akhir hayat Arwā binti Abdul Muthalib, tetapi ia diyakini hidup hingga beberapa tahun setelah hijrah Nabi ke Madinah. Keberaniannya dan sikapnya yang tegar tetap dikenang sebagai teladan bagi Muslimah dalam mendukung dakwah dan menjaga kehormatan keluarga. Ia merupakan simbol wanita yang teguh dalam pendirian, menghormati kebenaran, dan berani melawan ketidakadilan meskipun harus menentang keluarga terdekat yang salah arah.
Warisan Arwā binti Abdul Muthalib
Arwā binti Abdul Muthalib meninggalkan warisan semangat perjuangan yang layak diteladani. Ia adalah contoh wanita yang mendukung dakwah meski menghadapi ancaman, teguh pada prinsip, dan berani berbicara membela kebenaran. Namanya mungkin tidak sepopuler Khadijah atau Fatimah Az-Zahra, tetapi keteladanannya sebagai wanita yang setia, pemberani, dan penuh kebijaksanaan tetap hidup dalam sejarah Islam.
Kisah Arwā binti Abdul Muthalib ini menunjukkan bahwa peran wanita dalam sejarah Islam sangat beragam dan penuh kekuatan, bahkan dalam peran-peran yang mungkin tidak selalu nampak di depan layar. Dukungan moral dan keberanian yang ia tunjukkan turut membuka jalan bagi generasi Muslim selanjutnya untuk terus memperjuangkan kebenaran dengan penuh keyakinan.