Kisah tentang Sultan Mehmed II, yang dikenal sebagai Sultan Muhammad Al-Fatih, dan penaklukan Konstantinopel adalah salah satu cerita yang sangat epik dalam sejarah Islam. Peristiwa ini menandai berakhirnya Kekaisaran Bizantium dan membuka jalan bagi penyebaran Islam di Eropa Timur. Berikut adalah kisah lengkapnya:
Latar Belakang dan Cita-Cita Sang Sultan
Sultan Mehmed II lahir pada tahun 1432 di Edirne, yang saat itu adalah ibu kota Kesultanan Utsmani. Sejak kecil, Mehmed dididik dengan ketat dalam ilmu agama, militer, dan strategi perang. Ayahnya, Sultan Murad II, selalu menekankan pentingnya menaklukkan Konstantinopel, sebuah kota yang memiliki posisi strategis sangat penting karena menghubungkan Asia dan Eropa.
Konstantinopel adalah ibu kota Kekaisaran Bizantium, yang saat itu dikelilingi oleh tembok-tembok besar yang dianggap tak tertembus. Kota ini telah lama menjadi impian para pemimpin Muslim, bahkan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Konstantinopel akan ditaklukkan oleh pasukan terbaik, dan panglima terbaik adalah panglima yang akan menaklukannya.”
Sultan Mehmed II pun tumbuh dengan semangat untuk memenuhi nubuat tersebut. Pada usia 21 tahun, ia mengambil alih tampuk kepemimpinan dari ayahnya dan mulai merencanakan untuk menaklukkan Konstantinopel.
Persiapan untuk Penaklukan
Sebelum melakukan serangan besar-besaran, Sultan Mehmed II menyadari pentingnya persiapan yang matang. Ia memperkuat angkatan bersenjata dan mengembangkan teknologi perang baru, salah satunya adalah meriam besar yang disebut Meriam Dardanella. Meriam ini dirancang oleh seorang insinyur asal Hungaria bernama Urban, dan merupakan salah satu meriam terbesar yang pernah ada pada masanya.
Selain mempersenjatai pasukannya, Sultan Mehmed juga memperkuat perbentengan di Bosporus. Ia membangun Benteng Rumeli Hisarı di sisi Eropa selat Bosporus untuk memutus jalur pasokan ke Konstantinopel. Dengan ini, Konstantinopel menjadi terkepung dari segala arah.
Serangan Pertama dan Kegagalan Awal
Pada tanggal 6 April 1453, Sultan Mehmed memulai serangannya terhadap Konstantinopel. Pasukan Utsmani yang diperkirakan berjumlah sekitar 80.000–100.000 orang berhadapan dengan pasukan Bizantium yang berjumlah jauh lebih kecil, hanya sekitar 7.000–10.000 prajurit. Meskipun kalah jumlah, Bizantium memiliki keuntungan berupa tembok kota yang kokoh.
Serangan pertama Utsmani tidak berhasil menembus tembok kota. Setiap kali mereka mendekati tembok, pasukan Bizantium berhasil mempertahankan diri dengan panah dan minyak panas. Meriam besar milik Utsmani sempat memberikan efek besar, namun tidak cukup untuk menghancurkan seluruh tembok yang sangat kokoh.
Manuver Cerdik Sultan Mehmed
Namun, Sultan Mehmed tidak menyerah. Ia menemukan cara untuk menyiasati pertahanan kota. Salah satu strategi yang sangat inovatif adalah mengangkut kapal-kapal perang melalui daratan. Mehmed memerintahkan pasukannya untuk menggelindingkan kapal-kapal mereka melalui jalur darat di sekitar Tanduk Emas, sebuah teluk yang menjadi pelabuhan pertahanan utama Konstantinopel. Jalur darat tersebut dilapisi kayu untuk mempermudah pergerakan kapal.
Taktik ini mengejutkan pasukan Bizantium, karena tiba-tiba kapal-kapal Utsmani muncul di bagian dalam kota dan menyerang dari arah yang tidak terduga. Dengan strategi ini, pertahanan Bizantium menjadi semakin lemah, dan Sultan Mehmed berhasil menekan Konstantinopel dari segala penjuru.
Serangan Terakhir dan Kejatuhan Konstantinopel
Pada 29 Mei 1453, setelah pengepungan selama hampir dua bulan, Sultan Mehmed melancarkan serangan terakhir. Meriam-meriam besar terus menerus menghantam tembok, sementara pasukan darat Utsmani melakukan serangan frontal. Pertahanan Bizantium akhirnya runtuh, dan pasukan Utsmani berhasil menembus tembok kota. Konstantinopel pun jatuh ke tangan Sultan Mehmed.
Saat memasuki kota, Sultan Mehmed langsung menuju Hagia Sophia, gereja besar yang kemudian diubah menjadi masjid sebagai simbol kemenangan. Namun, Sultan Mehmed menunjukkan sikap yang penuh kebijaksanaan terhadap penduduk kota. Ia melarang pasukannya untuk merusak atau menghancurkan bangunan, dan mengizinkan warga Bizantium yang ingin tinggal untuk melanjutkan hidup di bawah pemerintahan Utsmani dengan kebebasan beragama.
Sultan Al-Fatih dan Keagungannya
Setelah penaklukan tersebut, Sultan Mehmed II mendapat gelar “Al-Fatih” yang berarti Sang Penakluk. Ia mengubah Konstantinopel menjadi ibu kota Kesultanan Utsmani dan menamainya Istanbul. Penaklukan ini menjadi tonggak besar bagi peradaban Islam, karena tidak hanya memperluas wilayah kekuasaan Utsmani tetapi juga menyatukan dua benua, Eropa dan Asia, dalam satu kekhalifahan besar.
Di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed Al-Fatih, Istanbul menjadi pusat kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ekonomi yang makmur. Ia membangun madrasah, masjid, dan berbagai infrastruktur lain yang memperkuat kedudukan Istanbul sebagai kota besar di dunia.
Warisan Abadi
Penaklukan Konstantinopel menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang paling dikenal dalam sejarah Islam dan dunia. Kisah ini terus diingat sebagai bukti kegigihan, kebijaksanaan, dan keberanian seorang pemimpin muda yang mampu mewujudkan cita-cita besar. Keberhasilannya dalam menaklukkan Konstantinopel membuka jalan bagi Kesultanan Utsmani untuk berkembang menjadi salah satu kerajaan paling kuat dan berpengaruh selama berabad-abad.
Warisan Sultan Mehmed Al-Fatih tetap hidup hingga kini, terutama di Istanbul yang masih menjadi salah satu kota terbesar dan paling penting di dunia.
Sumber Gambar: https://istanbuldaytours.com/istanbul-topkapi-palace-fatih-sultan-mehmeds-caftan/