Kisah Mualaf Kapolda Papua Irjen. Pol. Mathius D. Fakhiri

 


Berikut adalah kisah inspiratif Mathius D. Fakhiri, seorang mualaf yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua.

Mathius D. Fakhiri lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Kristen yang taat di Papua. Dengan penuh dedikasi, ia meniti karier di Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan berhasil menduduki berbagai posisi penting. Karakter Mathius dikenal tegas, adil, dan sangat memperhatikan kondisi masyarakat Papua. Di sisi lain, Mathius juga dikenal rendah hati, peduli terhadap warga, dan berusaha menjaga keamanan serta kesejahteraan masyarakat Papua dengan pendekatan yang humanis.

Perjalanan Mathius menuju Islam tidaklah mudah dan berlangsung dalam proses yang panjang. Mathius mulai merasa terpanggil untuk memahami Islam ketika ia berinteraksi dengan beberapa tokoh agama Islam dan rekan-rekan Muslim di lingkungan Polri. Pertanyaan dan rasa penasaran mulai tumbuh di dalam dirinya, terutama mengenai ajaran Islam yang penuh kedamaian dan kesederhanaan.

Di tengah tugas dan tanggung jawabnya sebagai Kapolda, Mathius terus belajar tentang Islam secara mendalam. Ia membaca Al-Quran dan buku-buku Islam, berbincang dengan ustaz dan para mualaf lainnya, serta merenungi tujuan hidupnya. Proses ini membuat Mathius menemukan ketenangan dan kedamaian yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

Setelah merenung dan mempertimbangkan matang-matang, Mathius akhirnya mengambil keputusan untuk memeluk Islam. Pada tahun 2021, di hadapan seorang ulama dan beberapa saksi, ia mengucapkan kalimat syahadat dan secara resmi menjadi seorang Muslim. Peristiwa ini adalah momen yang sangat mengharukan bagi Mathius dan orang-orang terdekatnya. Ia merasakan bahwa Islam memberikan makna hidup yang lebih mendalam dan panduan yang jelas dalam menjalani kehidupan, terutama dalam mengemban amanah sebagai pemimpin.

Perjalanan Mathius setelah menjadi mualaf tidak sepenuhnya mulus. Beberapa orang di sekitarnya terkejut, dan ia juga menghadapi berbagai reaksi dari masyarakat, baik yang positif maupun negatif. Namun, dukungan dari rekan kerja, keluarga, serta masyarakat Muslim di Papua menjadi kekuatan besar bagi Mathius untuk terus melangkah dalam keyakinannya yang baru.

Mathius juga menunjukkan bahwa Islam mengajarkan toleransi dan persaudaraan tanpa memandang agama, suku, atau latar belakang. Sebagai Kapolda, ia tetap menjalankan tugas dengan profesional dan menunjukkan kepedulian yang sama kepada semua orang. Sikapnya ini membuat Mathius semakin dihormati di kalangan masyarakat Papua dan Indonesia.

Sejak menjadi mualaf, Mathius D. Fakhiri menjalani hidupnya dengan nilai-nilai Islam yang ia pelajari. Ia kerap menjalankan ibadah salat, mempelajari Al-Quran, dan meningkatkan pemahaman Islam untuk memperdalam imannya. Mathius juga sering berdoa untuk kedamaian Papua, wilayah yang selalu menjadi perhatiannya.

Dalam menjalankan tugas sebagai Kapolda, Mathius dikenal tegas terhadap penegakan hukum, namun ia juga mengedepankan pendekatan persuasif dan damai, terutama di wilayah yang sensitif seperti Papua. Sikapnya ini menjadi teladan bagi banyak orang. Ia berharap untuk memberikan contoh kepemimpinan yang islami dan inklusif, di mana semua orang hidup berdampingan dengan damai, terlepas dari perbedaan agama atau keyakinan.

Kisah Mathius D. Fakhiri menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi masyarakat Papua dan para mualaf lainnya. Ia menunjukkan bahwa agama adalah jalan menuju ketenangan dan kedamaian. Mathius berharap, melalui perjalanan hidupnya sebagai mualaf dan pemimpin, ia bisa terus menyebarkan pesan persatuan, toleransi, dan kasih sayang kepada semua orang. 

Kisah Mathius D. Fakhiri adalah bukti nyata bahwa hidayah bisa datang kapan saja, dan siapa saja dapat menjalani hidup yang lebih berarti dengan pilihan yang tulus dari dalam hati.


Gambar: https://tribratanews.gorontalo.polri.go.id/

Related Posts

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama