Kisah Abdullah bin Umar dan Kepemimpinan yang Tak Diraih

 


Abdullah bin Umar adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal dengan ketakwaan dan ketulusannya dalam beragama. Ia adalah putra dari Umar bin Khattab, Khalifah kedua dalam sejarah Islam. Abdullah bin Umar adalah sosok yang sangat dihormati karena keteladanan, kecintaannya pada kebenaran, dan keikhlasannya dalam beribadah. Meski demikian, ada kisah tentang bagaimana ia tidak pernah menjadi pemimpin atau khalifah, meskipun ia memenuhi syarat dalam banyak hal.

Setelah kematian Khalifah Umar bin Khattab, terjadi pembahasan mengenai siapa yang akan menjadi penggantinya. Abdullah bin Umar adalah salah satu orang yang diakui sangat cakap dalam ilmu agama, bersikap adil, dan memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah SAW. Banyak sahabat memandangnya sebagai sosok yang layak memimpin umat Islam. 

Namun, Abdullah bin Umar memiliki sifat yang berbeda dari ayahnya dalam hal kekuasaan. Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan kuat, sementara Abdullah lebih cenderung bersikap rendah hati dan menghindari kekuasaan. Ketika Umar bin Khattab terluka parah akibat penyerangan dan mendekati ajal, beberapa sahabat menyarankan agar Umar menunjuk anaknya sebagai penerus. Akan tetapi, Umar dengan tegas menolak dan berkata, "Satu orang dalam keluarga ini sudah cukup untuk memegang kekhalifahan." 

Umar tidak ingin khalifah menjadi jabatan yang diwariskan layaknya kerajaan. Ia pun memberikan hak kepada dewan musyawarah untuk memilih penerusnya. Abdullah bin Umar tetap tidak masuk dalam daftar calon karena ayahnya sendiri yang menahan hal tersebut.

Meskipun demikian, ketika Khalifah Utsman bin Affan wafat dan terjadi krisis kepemimpinan, Abdullah bin Umar kembali muncul sebagai calon yang dipertimbangkan. Namun, kali ini, Abdullah bin Umar sendiri yang menolak dengan halus. Ia merasa bahwa kepemimpinan adalah amanah yang sangat berat, dan ia tidak ingin berada dalam posisi yang akan menyulitkan dirinya di akhirat. Dalam beberapa riwayat, Abdullah bin Umar mengatakan, "Aku lebih suka hidup dengan damai tanpa harus memikul tanggung jawab yang besar di dunia ini."

Abdullah bin Umar juga dikenal dengan sikapnya yang tidak mau terlibat dalam konflik politik yang memecah belah umat Islam, terutama selama masa fitnah besar yang melibatkan perang saudara antara kaum Muslimin. Ia menolak terlibat dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin, yang masing-masing mempertemukan pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Aisyah, Thalhah, dan Zubair serta Muawiyah bin Abu Sufyan. Abdullah bin Umar lebih memilih jalan netral, beribadah, dan menjaga keimanannya.

Banyak orang yang mendesaknya untuk mengambil peran sebagai pemimpin atau khalifah ketika kesempatan terbuka, tetapi ia dengan bijaksana menolak dengan alasan bahwa ia tidak ingin terlibat dalam urusan dunia yang bisa menggoyahkan ketakwaannya.


 Hikmah dari Kisah Abdullah bin Umar

Kisah Abdullah bin Umar mengajarkan kepada kita bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu yang harus dikejar dengan ambisi, melainkan amanah yang sangat berat. Abdullah bin Umar memilih jalan untuk tidak memimpin, bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia menyadari beratnya tanggung jawab tersebut dan khawatir akan hisab di akhirat.

Kebesaran Abdullah bin Umar bukanlah karena jabatan yang dipegangnya, melainkan karena keteguhan imannya dan kesetiaannya kepada prinsip-prinsip kebenaran. Ia memilih untuk hidup dalam ketenangan, menjalankan ibadah, dan tidak terjebak dalam hiruk pikuk kekuasaan duniawi, menjadikannya teladan bagi umat Islam sepanjang masa.

Related Posts

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama