Kisah Abdullah Bin Mubarak Dan Pemuda Miskin Dari Kufah


 Abdullah bin Mubarak adalah seorang ulama dan dermawan terkenal pada zaman dahulu. Suatu ketika, ia berencana untuk pergi menunaikan ibadah haji. Ia telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, termasuk membawa perbekalan yang cukup banyak untuk perjalanan jauh tersebut. Ia berniat untuk beribadah dengan khusyuk dan juga membantu orang-orang di sepanjang perjalanannya.

Saat berada di Kufah, Abdullah bin Mubarak melihat seorang pemuda sedang duduk di pinggir jalan. Pemuda tersebut terlihat sangat murung dan berwajah sedih. Abdullah pun mendekatinya dan menanyakan apa yang terjadi. Ternyata, pemuda tersebut sedang kesulitan karena ia memiliki keluarga yang sangat miskin. Ibunya sakit keras, dan mereka tidak memiliki uang untuk membeli makanan atau obat-obatan. Keluarga mereka hampir tidak bisa bertahan hidup.

Abdullah bin Mubarak merasa sangat tersentuh oleh cerita pemuda tersebut. Tanpa berpikir panjang, ia mengeluarkan seluruh bekalnya yang seharusnya digunakan untuk perjalanan haji, dan memberikan semuanya kepada pemuda itu. Ia berkata, "Gunakan uang ini untuk merawat ibumu, membeli makanan, dan memperbaiki keadaan keluargamu."

Pemuda tersebut sangat terkejut dan terharu. Ia menangis penuh rasa syukur dan berterima kasih kepada Abdullah bin Mubarak. Abdullah kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya ke Mekah, karena baginya, membantu orang yang membutuhkan adalah ibadah yang juga besar di hadapan Allah.

Setelah beberapa waktu, Abdullah bin Mubarak pulang ke kampung halamannya. Di malam hari, ia bermimpi melihat dua malaikat sedang berbicara. Salah satu malaikat berkata, "Apa yang dilakukan Abdullah bin Mubarak? Apakah ia pergi haji?" Malaikat lainnya menjawab, "Tidak, tetapi Allah telah mencatat baginya pahala haji, karena ia lebih memilih menolong sesama daripada menunaikan ibadah haji."

Kisah ini menunjukkan betapa besar nilai kebaikan dan tolong-menolong dalam Islam. Meskipun Abdullah bin Mubarak tidak jadi menunaikan ibadah haji secara fisik, Allah tetap memberikan pahala yang besar karena niat baik dan pengorbanannya demi menolong orang lain. Kebaikan hati dan keikhlasan dalam membantu orang yang membutuhkan, juga merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dihargai dalam Islam.

Kisah ini menyentuh hati, karena mengajarkan kita bahwa ibadah bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang bagaimana kita berinteraksi dengan sesama dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Related Posts

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama